Tradingan.com - “Ampuunn.. Tatii… amppuunn.. bibir kamu enak bangeett… belum pernah aa.. kk.. akuu dapat bibir macam inii…” sambil menggelinjang-gelinjang Pak Hermawan menahan derita birahi syahwatnya.
Dia remasi tepian jok sofa Grand Hayyat yang mewah itu. Terkadang pinggulnya menyentak menahan serangan geli syahwat yang tak terhingga. Dia juga mengayun-ayunkan pantatnya maju mundur mendorong kemaluannya mengentot mulutku. Aku semakin melayang dalam badai birahi yang melanda diriku. Seluruh tubuhku serasa dijangkiti peka nafsuku yang berkobar. Senggolan-senggolan kecil pada setiap organ tubuhku dengan bagian tubuh Pak Hermawan sepertinya merangsang dan memberikan kenikmatan tak terhingga.
Saraf-saraf peka pada ujung lidahku memberikan kenikmatan jilatan pada semua bagian yang bisa kugapai dengan lidahku ini. Aku menyertai seruputan bibir setiap lidah melata pada centi demi senti dari bijih pelir hingga sepanjang batang kontol Pak Hermawan.
Genjotan maju mundur pantat Pak Hermawan semakin keras dan cepat. Pasti dia sedang mengayuh deras mengejar kepuasan puncak syahwatnya. Kontolnya semakin membengkak dan mengeras. Aku yakin spermanya tengah menjalari urat-uratnya untuk meletup muncrat.
Mulutnya kembali meracau,
“Lontekuu.. pelacur murahann.. anjing penjilat jalanan.. ayyoo.. puas-puasi yyaa.. biar kamu puasi menjilati kontol yaa.. kontolku enak khann..? Kontolku gede dan nikmatt yaa..?! Ayyoo.. Tattii cabokuu.. anjingku.. lonte jalanankuu.. jilati teruzz..”.
Aku sudah dalam keadaan ‘trance’ nikmat. Mataku tengah membeliak meninggalkan putihnya. Aku melayang dalam topan badai birahiku. Segala umpatan, hinaan dan racau Pak Hermawan sepertinya menjadi bumbu masak penyedap yang membuat kenikmatan selingkuh dan ingkar janji pada suami ini semakin demikian nikmat rasanya.
“Aarrcchh.. Tattii, Tatii… Tatii.. Tattii…”
Direnggutnya kepalaku, ditariknya rambutku. Rasa pedih pada kulit kepalaku menyertai muncratnya air mani Pak Hermawan yang panas tumpah ke rongga mulutku. Tak pernah ingin aku menerima tumpahan air mani Mas Pardi suamiku, kini justru dari Pak Hermawan mengalir deras memenuhi mulutku.
Begitu usai menyemprotkan cadangan spermanya Pak Hermawan langsung rubuh lelah kemudian merosot dari sofa ke lantai. Terdengar nafasnya yang ngos-ngosan sambil berbisik,
“Maafin saya Tati.. Omongan tadi sangat kasar yaa..”.
Terkait
Aku malahan tersenyum sambil tanganku meraih dagunya dan mengelusinya,
“Nggak apa-apa, Pak. Aku mengerti kok…”
Tanganku meraba turun dan menangkap kontolnya yang nampak masih lunglai. Jari-jariku memilin pelan. Mengusap-usap sperma kental yang masih melumurinya. Terus terang aku sangat berharap kontol gede dan panjang itu kembali tegang dan mengaduk-aduk vaginaku. Aku sudah nggak sabar menantikan gesekan-gesekan pada dinding-dinding vaginaku. Pak Hermawan tahu.
Akhirnya dia berdiri dan mengajak aku ke ranjang. Kami langsung rebah dalam pagutan. Dan kurasakan pelan tetapi pasti kemaluannya mulai kembali menegang. Wajib baca!

0 Response to "Cerita Ngewe Anus dan Vagina di Arisan Syahwat 6"
Posting Komentar